'SISTER VILLAGE' DISIAPKAN UNTUK LETUSAN MERAPI
Pemerintah Boyolali telah menyiapkan model evakuasi yang disebut "Sister Village" untuk mengantisipasi kemungkinan krisis kemanusiaan jika letusan besar, seperti yang terjadi pada 2006 dan 2010, terjadi di Gunung Merapi di Magelang, Jawa Tengah.
Dalam model evakuasi Sister Village, para pengungsi akan tinggal di rumah-rumah penduduk di daerah-daerah yang aman dari bahaya letusan gunung berapi. Lokasi evakuasi juga harus dekat dengan kantor administrasi desa, pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), subpressi polisi dan objek vital lainnya.
“Selain rumah penduduk, kantor pemerintah dan tenda sementara yang didirikan di ladang juga bisa digunakan sebagai lokasi evakuasi. Kami berharap [tidak akan ada] bahaya letusan, tetapi tetap saja, tindakan pencegahan harus diambil, ”kata Kepala Divisi Urusan Bencana Mitigasi Bencana Boyolali (BPBD) Kurniawan Fajar Prasetyo, Minggu.
Dia lebih lanjut mengatakan model Sister Village akan dilaksanakan di zona rawan bencana (KRB) II, yang terdiri dari wilayah yang terletak radius 5 kilometer dari Mt. Puncak Merapi. Zona ini mencakup puluhan permukiman kecil di tujuh desa di distrik Selo dan Musuk.
“Puluhan ribu penduduk tinggal di KRB II. Di bawah model Sister Village, penduduk desa Samiran di distrik Selo, misalnya, akan dievakuasi ke desa Mudal di kabupaten kota Boyolali, ”kata Kurniawan.
Sementara itu, warga yang tinggal di KRB III, atau daerah dalam radius 3 km dari puncak gunung berapi, akan dievakuasi ke Mertoyudan di Kabupaten Magelang. Mereka termasuk sekitar 800 penduduk Stabelan di desa Tlogolele. Kurniawan mengatakan BPBD Boyolali juga telah menyiapkan lokasi evakuasi untuk ternak, terutama ternak, milik warga.

No comments:
Post a Comment