TRANSPARANSI POLISI DALAM MENANGANI KERUSUHAN DI PENJARA DEPOK
Sebuah pengawas polisi telah mempertanyakan transparansi Kepolisian Nasional dalam menangani kerusuhan dan kebuntuan yang sedang berlangsung antara petugas polisi anti-terorisme dan narapidana-narapidana terorisme yang terhubung dengan Islam di sebuah pusat penahanan dengan keamanan tinggi di kota tetangga, Depok, Jawa Barat.
Pada Selasa malam, kerusuhan terjadi di markas pusat Brigade Mobil Polisi Nasional (Mako Brimob) di Kelapa Dua, Depok, dengan laporan awal yang menyatakan bahwa tembakan telah dipecat selama insiden tersebut. Gambar-gambar yang memperlihatkan para tahanan yang memegang senjata api telah beredar di media sosial, dan juga tweet yang mengatakan bahwa IS telah mengklaim bertanggung jawab atas kerusuhan itu.
Lima anggota regu antiterorisme polisi Densus 88 tewas dalam kerusuhan dan mayat mereka telah dikirim ke Rumah Sakit Polisi Kramat Jati di Jakarta Timur, sementara petugas lainnya disandera oleh para tahanan. Seorang terpidana terorisme juga tewas dalam kerusuhan itu.
Pengamat Polisi Indonesia (IPW) yang bermarkas di Jakarta mengatakan, pihaknya "prihatin dengan situasi di Mako Brimob" tetapi mengkritik kelambanan Polisi Nasional untuk mengungkapkan informasi publik tentang kerusuhan, terutama tentang korban jiwa.
"Lima petugas telah tewas sejak pukul 01.00 [Rabu] namun kematian mereka hanya diumumkan kepada publik pada pukul 16.00 [Rabu]," kata ketua IPW Neta S. Pane dalam sebuah pernyataan yang diterima oleh The Jakarta Post pada hari Rabu.
"Sebelumnya, polisi mengatakan tidak ada korban jiwa selama kekacauan. Ini bukan tindakan transparan dari polisi dan sangat aneh," kata Neta.
"Hingga Rabu sore, polisi selalu mengklaim situasi terkendali. Tetapi sebenarnya pusat penahanan masih ditempati oleh narapidana terorisme dan seorang petugas masih disandera."
Neta menambahkan bahwa seluruh insiden telah meningkatkan kekhawatiran atas kemampuan Brimob kepolisian untuk mengamankan "kantor pihak lain" atau acara-acara penting seperti pemilihan daerah yang akan datang pada bulan Juni.
"Dengan gejolak di pusat penahanan Mako Brimob, sudah waktunya bagi Kapolri untuk mengevaluasi posisi komandan Brimob untuk mencegah kekacauan tersebut terjadi lagi di pusat penahanan," kata Neta.
Menurut Kepolisian Jakarta, kerusuhan dimulai sedini 7:30 malam. pada hari Selasa. Salah satu tahanan telah meminta makanan yang dibawa oleh anggota keluarga, tetapi makanan itu disimpan oleh petugas polisi lain. Tahanan menjadi marah dan menghasut orang lain untuk memprotes, setelah itu kerusuhan pecah.
Para tahanan menerobos tembok-tembok dan jeruji penjara dan pergi ke ruang simpatisan, di mana mereka mulai menyerang petugas yang menyelidiki tahanan baru.
Sidney Jones, direktur Institut Analisis Konflik Kebijakan (IPAC) di Jakarta, mengatakan pada hari Rabu bahwa, "Saya kira Anda dapat mengatakan bahwa orang Indonesia pro-ISIS berada di belakang" kerusuhan, mengacu pada IS dengan istilah lain.
Pusat penahanan Mako Brimob menampung napi terorisme dan tokoh-tokoh terkemuka seperti mantan gubernur Jakarta Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama, yang dihukum karena penodaan agama setelah menghina Islam pada tahun 2017.
Kebuntuan antara polisi dan narapidana terorisme sedang berlangsung mulai jam 5 sore. di hari Rabu.

No comments:
Post a Comment